MimbarRohil.com - PENGURUS Daerah Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Aceh berupaya memulihkan lahan pertanian di Pante Lhong, Bireuen, pascabencana banjir bandang akhir November lalu. Program yang dinamakan 'Bangkit dari Lumpur' itu akan menjajal pertanian padi gogo dan penyelamatan jeruk pamelo.
Akan kami lakukan dari Januari sampai Agustus ini. Kami berharap kolaborasi dari banyak pihak,” kata Mulkan Fadhli dari Ikatan Alumni ITB Aceh secara daring di acara workshop pemulihan pasca-bencana Sumatera di Aula Timur ITB, Senin 12 Januari 2026.
Mulkan menerangkan, sawah di Panthe Lhong mengandalkan pola tadah hujan. Wilayah ini menjadi bagian dari 445 desa menjadikan tanaman pangan sebagai sub-sektor pertanian utama dan menegaskan pentingnya produksi padi di Bireuen. Pertanian menjadi sumber penghasilan utama bagi sebagian besar penduduk atau 88,89 persen desa di Bireuen. Namun begitu, menurut Mulkan, pertanian di Bireuen tergolong rentan dari ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir yang berulang.
Mulkan mengatakan alasan memilih lokasi di Pante Lhong karena daerah itu punya empat keunggulan sehingga dinilai ideal untuk inovasi dan replikasi. Pertama, lokasi percontohan sawah padi gogo bersebelahan dengan Sungai Krueng Peusangan sehingga akses air mudah. Lalu, status lahan percobaan padi gogo seluas satu hektare di lokasi ini dinilai aman dan bisa berkelanjutan karena tanah wakaf. Keunggulan ketiga dan keempat adalah adanya pusat unggulan ekonomi jeruk pamelo dan modal sosial yang kuat dari para kelompok tani.
Diterangkan Mulkan, sebelum ditanami padi gogo, lahan sawah yang akan digunakan harus dibersihkan dulu dari endapan lumpur sisa banjir. Tanah selanjutnya akan dilapis dengan pupuk organik dan sistem drainase mikro. Menghadapi kondisi lahan pasca banjir yang keras dan miskin zat hara, dipilih varietas padi gogo yang unggul yaitu Inpago 13 Fortiz. “Mungkin jenis padi ini bisa dikritisi teman-teman kampus sehingga kami bisa memilih varietas yang benar-benar baik,” kata Mulkan.
Untuk memulihkan kesuburan tanah, dia memperhitungkan, diperlukan 25 ton pupuk organik per hektare. Proyeksinya, hasil panen dalam kurun 4-5 bulan nantinya bisa menghasilkan 5-6 ton gabah kering giling per hektare.
Sedangkan upaya penyelamatan pohon jeruk pamelo yang terancam mati lemas akibat terbenam lumpur keras dilakukan dengan cara menggali endapan di sekitar pangkal batang dengan hati-hati. Tujuannya, pohon dapat kembali bernapas dan mencegah pembusukan batang. "Targetnya 80-120 batang pohon jeruk pamelo akan diselamatkan yang proyeksi keberhasilannya ditaksir sekitar 80 persen," kata Mulkan.